Jelajah Gizi 1: Gunung Kidul

Sahabat nutrisi,

Jelajah Gizi adalah “Jalan-jalan Unik” untuk memperkenalkan keanekaragaman makanan khas daerah, sekaligus mempelajari sejarah dan budaya yang melatarbelakanginya.

Jelajah Gizi juga mengajak peserta untuk mempelajari proses pembuatan hidangan khas tersebut, hingga memahami nilai gizi yang terkandung di dalamnya.

Pada kesempatan ini, daerah yang terpilih untuk kegiatan Jelajah Gizi adalah daerah Gunung Kidul di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Mengapa Gunung Kidul?

Daerah yang sering dilanda kekeringan ini ternyata memiliki latar belakang sejarah yang panjang. Daerah ini telah dihuni oleh spesies manusia sejak 700 ribu tahun lalu. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya gua-gua yang pernah ditempati oleh manusia purba, yang kini menjadi salah satu daya tarik pariwisata di daerah itu.

Sejarah panjang Kabupaten Gunung Kidul tentulah berkaitan erat dengan kulinernya. Tiwul yang kita kenal selama ini, hanyalah satu di antara bermacam-macam makanan khas daerah Gunungkidul.

Tentunya ada banyak lagi kekhasan kuliner Gunung Kidul, yang akan kita gali bersama dalam Jelajah Gizi pada tanggal 2 - 4 Nopember 2012.

Pada Jelajah Gizi 1, terpilih 10 orang Petualang Gizi. Mereka adalah:

  1. Andreas Dwi Setiawan
  2. Ani Berta
  3. Dian Adi Prasetyo
  4. Eka Ria D Situmorang
  5. Evi Indrawanto
  6. Hanum Putri Hapsari
  7. Lina PW
  8. Muhammad Zamroni
  9. Reh Atemalem Susanti
  10. Rikardo Kaway

Mereka didampingi oleh Prof Dr Ahmad Sulaiman, pakar teknologi pangan dari IPB, yang pada kesempatan pertama sudah mulai memaparkan kelebihan aneka makanan dan cemilan yang terbuat dari bahan dasar lokal yang tersaji di Pari Gogo.

Pari Gogo adalah warung makan yang menjual aneka makanan khas Gunung Kidul, termasuk belalang goreng. Belalang sebagai kearifan lokal di Gunungkidul yang kering merupakan sumber protein yang tinggi. Jika sudah digoreng kering, kandungan proteinnya mencapai 40%. Dan rasanya seperti udang goreng. Patut dicoba lho.

Selanjutnya, para Petualang Gizi juga bertemu Bidan Liestiyani Ritawati, seorang bidan penerima Srikandi Award tahun 2009. Bidan Liestiyani merupakan sosok inspiratif yang mengusahakan air untuk menekan angka kematian ibu dan bayi.

Seperti yang kita ketahui bersama, daerah Gunungkidul merupakan daerah yang kering dan susah air, warga harus pergi ke daerah yang cukup jauh untuk mengambil air. Hal ini tentu menyulitkan jika ada ibu yang akan melahirkan.

Bidan Liestiyani mempelopori pembuatan sumur bor di desa Sambirejo, tujuan awalnya adalah untuk mengurangi kematian ibu dan bayi akibat infeksi, yang disebabkan karena kesulitan mendapatkan air bersih.

Di kesempatan ini juga diajarkan cara membuat berbagai hidangan dari ketela, termasuk es krim dari ketela

Pada hari kedua, Para Petualang Gizi diajak ke pasar tradisional Argosari, di Wonosari, dan melaksanakan blusukan di pasar. Kegiatan ini dilombakan, dengan mekanisme sebagai berikut: mereka diharuskan menghabiskan uang sebesar Rp 10000 (sepuluh ribu rupiah) untuk membeli 20 jenis jajan pasar dan bahan pangan yang sudah ditentukan oleh panitia, diberikan dalam bentuk teka-teki, dalam waktu 30 menit.

Seru sekali!

Selanjutnya, mereka menuju ke PAUD Prasojo, untuk bermain bersama anak-anak, dan ke posyandu untuk membantu pelaksanaan kegiatan di posyandu, seperti menimbang balita.

Setelah itu peserta diarahkan ke Desa Wisata Kerajinan Kayu, desa Bobung. Di sana mereka menyaksikan kegiatan para pengrajin kayu, yang hasilnya sudah dipasarkan ke manca negara.

Uniknya, warga desa Bobung wajib menanam pohon di setiap rumah untuk menjaga keseimbangan lingkungan sekaligus menjaga keberlangsungan bahan baku. Jika menebang 1 pohon, maka harus menanam 10 pohon.

Di hari ketiga, yang juga merupakan hari terakhir, panitia menyediakan beberapa jam acara bebas, yang dimanfaatkan oleh para petualang gizi untuk berbelanja berbagai oleh-oleh.

Sebelum acara berakhir dan kembali ke tempat asal masing-masing, para petualang gizi diajak ke Bale Raos, untuk ikut serta dalam kegiatan media gathering. Di sana akan bertemu dengan berbagai media dan komunitas blogger lokal, untuk mendengarkan paparan dari Sarihusada mengenai kegiatan Jelajah Gizi.

Galeri

Petualang Jelajah Gizi Ke Kepulauan Seribu

Berlatarbelakang untuk memperkenalkan aneka keunikan kuliner di Nusantara, Sarihusada mengadakan kegiatan Jelajah Gizi.

Jelajah Gizi, adalah “Jalan-jalan Unik” untuk memperkenalkan keanekaragaman makanan khas daerah, sekaligus mempelajari sejarah dan budaya yang melatarbelakanginya. Juga mengajak peserta untuk mempelajari proses pembuatan hidangan khas tersebut, serta memahami nilai gizi yang terkandung di dalamnya.

Pada kesempatan ini, daerah yang terpilih untuk kegiatan Jelajah Gizi adalah daerah Kepulauan Seribu. Sebagai wilayah yang di kelilingi laut, tentunya tidak mengherankan jika hasil laut merupakan kuliner andalan mereka.

Tentunya ada banyak lagi kekhasan kuliner Kepulauan Seribu, yang akan kita gali bersama dalam Jelajah Gizi.

Untuk menemukan 10 Petualang Jelajah Gizi, Nutrisi Untuk Bangsa mengadakan lomba penulisan artikel yang bertema “Kekayaan Gizi Daerah Pesisir”.

Lomba yang berlangsung sejak 23 April dan berakhir pada 22 Mei 2013, diikuti oleh lebih dari 160 artikel.

Setelah melewati proses penilaian dan penjurian oleh tim dari Sarihusada akhirnya 10 Petualang Jelajah Gizi ditemukan.

Mereka adalah:

  1. Mehdia Iffah Nailufar, Merindu Penyetan Ikan
  2. Harris Maulana, Papeda, Kuliner Penuh Gizi Khas Dari Timur Indonesia
  3. Dwi Ariyani Nurfajari, Iwak Peyek Jodohnya Nasi Jagung
  4. Adi Satiawidi, Sekotak Otak-Otak yang Bikin Ketagihan
  5. Iqbal Kautsar, Sate Ikan Tanjung: Cita Rasa Kaya Gizi dan Tradisi Lombok Utara
  6. Ibnu Anshari, Koncok-Koncok Kuliner Khas Pulau Bawean
  7. Nesa Tasya Asmarany, Rendang Lokan, Si Kenyal Berbumbu yang Kaya Protein
  8. Sihar Harianja, Ikan Pora-Pora, Penghasil Omega 3 dari Danau Toba
  9. Defi Laila Fazr, Cacing Kaya Gizi Yang Muncul Setahun Sekali
  10. A.A Gede Ngurah Putra Adnyana, Memburu Rujak Bulung Diteriknya Serangan Bali

Selamat kepada para pemenang lomba blog jelajah gizi, cek email Anda untuk brief dari kami.

Selamat berpetualang di Kepulauan Seribu!

Galeri

Pemenang Lomba Blog Jelajah Gizi 3: Makanan Daerah Yang Mendunia

Berlatarbelakang untuk memperkenalkan aneka keunikan kuliner di Nusantara, Sarihusada mengadakan kegiatan Jelajah Gizi.

Jelajah Gizi, adalah “Jalan-jalan Unik” untuk memperkenalkan keanekaragaman makanan khas daerah, sekaligus mempelajari sejarah dan budaya yang melatarbelakanginya. Juga mengajak peserta untuk mempelajari proses pembuatan hidangan khas tersebut, serta memahami nilai gizi yang terkandung di dalamnya.

Pada kesempatan ini, daerah yang terpilih untuk kegiatan Jelajah Gizi adalah daerah Bali. Sebagai wilayah dengan keunikan geografis, tidak mengherankan jika Bali memiliki keunikan budayanya dan daerah pariwisata yang terkenal termasuk kekhasan kulinernya.

Tentunya ada banyak kekhasan kuliner di Bali, yang akan kita gali bersama dalam Jelajah Gizi.

Untuk menemukan 10 Petualang Jelajah Gizi, Nutrisi Untuk Bangsa mengadakan lomba penulisan artikel yang bertema “Makanan Daerah Yang Mendunia”.

Lomba yang berlangsung sejak 15 September dan berakhir pada 18 Oktober 2015 ini diikuti oleh 212 artikel.

10 orang pemenang diperoleh setelah melewati proses penilaian dan penjurian yang ketat oleh tim dari Sarihusada. Para juri terdiri dari:

  1. Prof. Ir. Ahmad Sulaeman, MS, PhD,Guru Besar Bidang Keamanan Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB)
  2. Chef Muto
  3. Indah Tri Novita (Sarihusada)

Para pemenang itu adalah:

  1. Amril Taufik Gobel, Bindhe Biluhuta Sajian Kuliner Dengan Sensasi Rasa Mendunia
  2. Astari Radnadya, Kupat Tahu Gempol Memang Jempol
  3. Driana Rini, Nasi Goreng, Bukan Sekedar Nasi yang Digoreng
  4. Haya Aliya Zaki, Sate Kerang Rahmat Kuliner Medan yang Siap Melesat
  5. Karmin Winarta,Tiap Anggota Keluarga Punya Resep Nasi Goreng Enak
  6. Lidya Fitrian, Kelezatan Pempek Yang Tersohor Hingga ke New York City
  7. Lusiana Trisnasari,Kisah Bakmi Jawa dari Kota Mie Yang Mendunia
  8. Muhammad Arif Rahman, Kisah Rumah Makan Padang Sederhana
  9. Retno Wulandari, Salad Lokal Goes Global
  10. Swastika SN, Jelajah Gizi Sepiring Nasi Goreng

Para juri disibukkan dalam memilih pemenang. Semua artikel yang masuk memiliki kekhasan,serta kaya akan materi dan gaya penulisan, termasuk beberapa artikel yang mengangkat jenis makanan yang sama. Namun, para juri berusaha mencari keunikan cara menggali potensi makanan tersebut untuk disajikan dalam sebuah artikel.

Selamat kepada para pemenang lomba blog jelajah gizi, cek email Anda untuk pemberitahuan lebih lanjut dari kami.

Selamat berpetualang di Bali!

Bagi sahabat nutrisi yang belum beruntung, ikuti terus kanal-kanal sosial media Nutrisi Untuk Bangsa untuk kejutan-kejutan lainnya.

Galeri

Pemenang Lomba Blog Jelajah Gizi 4: Membedah Nilai Gizi Masakan Minahasa

Berlatarbelakang untuk memperkenalkan aneka keunikan kuliner di Nusantara, Sarihusada mengadakan kegiatan Jelajah Gizi.

Jelajah Gizi, adalah “Jalan-jalan Unik” untuk memperkenalkan keanekaragaman makanan khas daerah, sekaligus mempelajari sejarah dan budaya yang melatarbelakanginya. Juga mengajak peserta untuk mempelajari proses pembuatan hidangan khas tersebut, serta memahami nilai gizi yang terkandung di dalamnya.

Pada kesempatan ini, daerah yang terpilih untuk kegiatan Jelajah Gizi adalah Propinsi Sulawesi Utara, tepatnya di Kabupaten Minahasa.

Mengapa Sulawesi Utara?

Sulawesi Utara merupakan salah satu wilayah Republik Indonesia yang berbatasan dengan Samudera Pasifik, yang merupakan samudera terbesar di dunia. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika wilayah itu kaya akan sumber daya laut.

Laut merupakan daya tarik utama di provinsi ini. Sebut saja Taman Nasional Bunaken yang kaya akan terumbu karang, dan hewan-hewan laut lainnya. Taman Nasional Bunaken merupakan taman laut pertama di Indonesia, yang pada tahun 2005 telah didaftarkan pada UNESCO untuk dimasukan kedalam Situs Warisan Dunia.

Selain kekayaan alam bahari ini, wilayah Sulawesi Utara juga kaya akan keanekaragaman kuliner setempat. Kita sudah tidak asing lagi dengan Tinutuan atau bubur Manado, maupun Ayam Woku Blanga. Namun sebenarnya ada banyak hidangan khas Sulawesi Utara, termasuk aneka hidangan tradisional yang tidak biasa.

Keindahan alam dan keunikan kuliner di Sulawesi Utara inilah yang menjadi daya tarik untuk digali lebih jauh lagi dalam Jelajah Gizi 4, tahun 2016

Lomba yang berlangsung sejak 19 Oktober dan berakhir pada 6 November 2016 ini diikuti oleh 167 artikel.

Setelah melewati proses penilaian dan penjurian oleh tim dari Sarihusada akhirnya 10 Petualang Jelajah Gizi ditemukan. Mereka terdiri dari:

2 (dua) pemenang hadiah pertama yang masing-masing mendapatkan hadiah uang tunai sebesar Rp 3,000,000 (Tiga Juta Rupiah), adalah:

Unggul Sagena, Kreasi Sarapan Sehat Roti Udang Ala Bapak Rumah Tangga

Murtiyarini,Kreasi Masakan Ikan ala Ibu Bekerja


2 (dua) pemenang hadiah kedua yang masing-masing mendapatkan hadiah uang tunai sebesar Rp 2,000,000 (Dua Juta Rupiah), adalah:

Zata Ligouw, Hidangan Laut Perekat Kebersamaan

Shintaries Nijerinda,Alergi Seafood? Cobain Tomyam Kelapa Seafood!


6 (enam) pemenang hadiah ketiga yang masing-masing mendapatkan hadiah uang tunai sebesar Rp 1,000,000 (Satu Juta Rupiah), adalah:

Afifatun Nafisah,Menu Hasil Laut Pemicu Rindu

Ani Berta,Santapan Unik Dari Perairan NTT dan Manado

Didik Djatmiko,Menjelajah Destinasi Kuliner Masakan Laut dari Sabang sampai Merauke

Evrina Budiastuti,Dua Kreasi Olahan Makanan Laut untuk Kamu yang Jauh dari Laut

Liswanti Pertiwi,2 Makanan Khas Manado Untuk Keluarga,

Vania Samperuru,Mengenal Kuliner Sulawesi Utara dalam Sajian Cakalang Jagung Manis

Selamat kepada para pemenang lomba blog Jelajah Gizi 4, cek email Anda untuk brief dari kami.

Selamat berpetualang di Sulawesi Utara!

Bagi sahabat nutrisi yang belum beruntung, ikuti terus kanal-kanal sosial media Nutrisi Untuk Bangsa untuk kejutan-kejutan lainnya.

*) update : dikarenakan salah satu pemenang yang telah diumumkan sebelumnya mengundurkan diri, maka daftar pemenang kami perbaharui per tanggal 11 November 2016 jam 17.00 WIB.

Galeri

Rangkaian Kegiatan Jelajah Gizi 2017 Malang “From Local to International”

Sahabat nutrisi

Kegiatan Jelajah Gizi 5 yang diadakan di kota Malang baru saja berakhir pada Minggu 15 Oktober 2017 lalu.

Kegiatan yang diawali dengan seleksi untuk mendapatkan 10 Petualang Gizi ini berlangsung sejak tanggal 14 sampai 30 September 2017. Yaitu dengan mengadakan lomba foto makanan Indonesia yang menarik, sehingga layak bersaing dengan makanan internasional.

Pada tanggal 7 Oktober 2017 akhirnya diumumkan 10 (sepuluh) pemenang lomba foto, dan mereka berhak menjadi Petualang Gizi, dalam kegiatan Jelajah Gizi 5 di Malang.

Mereka adalah :

  1. Dyah Prameswarie
  2. Rachmat Pudiyanto
  3. Asri Vernon
  4. Brian Ardianto
  5. Luis Widarto
  6. Ratri Oktaria J
  7. Eliza Indah Setiawan
  8. Suciati Cristina
  9. Maya Sofiani Delima
  10. Dudy Iskandar

Petualangan gizi dimulai pada hari Jumat, 13 Oktober 2017.

Para peserta yang berasal dari Jakarta dan sekitarnya berangkat dengan menggunakan pesawat, dari bandara Halim Perdanakusuma menuju bandara Abdul Rachman Saleh, Malang.

Kegiatan hari pertama diawali dengan makan siang bersama di Rumah Makan Khas Jawa di Batu. Bapak Sukarli, sang pemilik restoran menyambut para peserta. Dan menjelaskan bahwa menu masakan di restorannya tidak menggunakan bumbu penyedap buatan.

Bapak Arif Mujahidin selaku Corporate Communications Director Danone Indonesia yang membuka kegiatan ini mengatakan bahwa Malang dipilih sebagai destinasi Jelajah Gizi tahun ini, karena Malang adalah sebuah kota yang memiliki berbagai macam makanan lokal yang bisa dieksplor.

Selain itu, sebagai kota wisata yang memiliki daya tarik karena berada di dataran tinggi, Malang juga dikaruniai oleh sumber bahan makanan dari pertanian dan peternakan yang melimpah dan berpotensi untuk dikenal di dunia internasional.

Sementara Prof. Ir. Ahmad Sulaeman, MS, PhD, ahli gizi yang ikut dalam Jelajah Gizi ini mengatakan bahwa makanan khas daerah memiliki kekhasan rasa dan juga terkandung nilai gizi dan komponen nutrasetikal yang bermanfaat bagi kesehatan dan kebugaran.

Di restoran ini pula para petualang gizi mendapatkan kelengkapan kegiatan, seperti kaos, jadwal acara dan program. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan ke Agro Wisata Batu untuk memetik buah apel, dan menikmati olahan apel bersama secangkir teh, yang pastinya sangat cocok dinikmati di udara sejuk kota Batu

Setelah itu, kegiatan beralih ke Museum Angkut, di mana para peserta harus mengerjakan tugas-tugas kelompok berupa merekam yel-yel kelompok dan mengunggah salah satunya di Instagram dengan menggunakan hastag #JelajahGiziMalang dan #NamaGrup mereka.

Para peserta juga diharuskan berfoto di beberapa tempat di Museum Angkut sesuai petunjuk yang diberikan, serta memfoto makanan di Pasar Apung.

Kegiatan hari pertama ditutup dengan makan malam di Pupuk Bawang Restoran, sambil menikmati pemandangan kota Malang di waktu malam.

Pada hari kedua, Sabtu 14 Oktober 2017, para petualang gizi diajak ke daerah wisata Coban Rondo

Di sana mereka diajak berolahraga sebelum memulai aneka kegiatan berupa permainan, seperti tebak makanan, games nutrisi, mencari harta karun di labirin dan menghias ban yang berisikan tanaman.

Acara dilanjutkan dengan sesi memasak bersama Chef Revo. Yang memperagakan memasak aneka hidangan berbahan apel. Didampingi Prof. Ahmad Sulaeman untuk membahas nutrisinya. Dan tidak ketinggalan juga, lomba memasak.Kegiatan selanjutnya berkunjung ke Desa Sanan, untuk meninjau pabrik pembuatan kripik tempe, oleh-oleh khas Malang.

Pembuatan kripik tempe ini merupakan industri rumah tangga selama bertahun-tahun. Dalam satu hari, desa Sanan membutuhkan kedelai sebanyak 30 ton untuk keperluan pembuatan tempe. Acara hari kedua ditutup dengan gala dinner di Taman Indie, Malang. Yang dimeriahkan dengan tari Topeng dan live music.

Hari ketiga, Minggu 15 Oktober 2017, diawali dengan sarapan di Ijen Suites, dilanjutkan dengan mengunjungi Jodipan.

Jodipan adalah kampung warna warni yang merupakan hasil CSR dari sebuah perusahaan cat di Indonesia. Setelah puas berfoto-foto di Jodipan, kegiatan dilanjutkan dengan makan siang bersama di Museum Resto Inggil. Di restoran inilah kegiatan Jelajah Gizi 5 ditutup oleh mas Novan dari Danone dan Profesor Ahmad Sulaeman.

Akhirnya para peserta kembali ke daerah asal masing-masing, setelah melakukan foto bersama di Balaikota Malang.

Seru ya?

Galeri